Beri Atensi pada Manusia

Karakter dan Sifat Tiga Kelompok Manusia Dalam Al-Qur’an

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg 

  AL-QUR'AN merupakan kitab suci umat Islam yang tidak hanya berbicara tentang iman, ilmu dan amal, namun juga membahas tentang manusia dan perilakunya. Secara umum Al-Qur’an membagi manusia kepada tiga kelompok utama yaitu mukmin, kafir dan munafik. Pengelompokan ini bertujuan untuk mengetahui secara detail karakter dan sifat dasar mereka , sehingga dengan mudah kita bisa memahami posisi masing-masing kelompok di depan Allah Subhanahu Waatala dan rasul-Nya.


Tujuan lainnya agar kita sebagai orang beriman mampu memilih serta memilah mana yang dijadikan teman akrab dan yang harus berhati-hati dalam bergaul. Selain itu klasifikasi ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memberi atensi lebih terhadap manusia. Sebab karakter dan sifat yang berkelindan dalam diri mereka menjadi sesuatu yang perlu untuk diketahui.

1.    Mukmin

Secara bahasa mukmin berasal kata kata âmana-yukminu yang bermakna percaya atau beriman. Sedangkan menurut istilah mempercayai atau beriman dengan perintah Allah Subhanahu Waatala secara totalitas tanpa harus mempertanyakan sesuatu itu benar atau salah, atau dengan bahasa lain seorang mukmin tidak boleh menolak apa yang diturunkan Allah Subhanahu Waatala kepada hamba-Nya baik sesuatu itu dapat diterima akal maupun tidak. Sifat dan karakter itu harus tertanam kuat dalam diri seorang mukmin, ia tidak boleh ragu sedikitpun atas apa yang diyakini.

Allah Subhanahu Waatala dengan tegas mengambarkan sifat dan karakter yang tertanam dalam diri seorang mukmin.

Allah Subhanahu berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ۝ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ ۝ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh beberapa derajat (kemuliaan) di sisi Tuhannya, ampunan dan rezeki yang mulia.(QS. Al-Anfal: 2–4).

Ibnu Abbas berkata: Secara eksplisit ayat ini menekankan karakter dan sifat mumkin sejati, mereka memiliki hati yang hanya tunduk dan takut kepada Allah, imannya selalu bertambah kala mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, serta senantiasa bertawakal kepada-Nya. Selain itu, mereka juga menjaga shalat dan gemar menginfakkan sebagian rezekinya di jalan kebaikan. Semua bentuk karakter dan sifat ini tidak dimiliki orang-orang munafik. (Ahmad Syârki, Umdatuttafsîr , 2/99)

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa mukmin sejati adalah pribadi yang memiliki keimanan yang kokoh, hati yang tunduk kepada Allah Swt, serta senantiasa merealisasikan imannya dalam bentuk amal saleh. Keimanan mereka tidak hanya tampak dalam ucapan, tetapi juga tercermin melalui ketakwaan, tawakal, menjaga salat dan gemar berinfak di jalan Allah Subhanallah Waatala.


Sifat-sifat tersebut menjadi pembeda yang jelas antara orang beriman dengan orang munafik, sebab kemunafikan hanya menampilkan keimanan secara lahiriah tanpa disertai keyakinan yang tulus di dalam hati. Dengan demikian, ayat tersebut menegaskan bahwa kesempurnaan iman harus dibuktikan melalui ketulusan hati dan konsistensi amal dalam kehidupan sehari-hari.

2.Kafir

Secara bahasa kafir berasal dari kata kafaro yang bermakna tertutup atau mengingkari. Sementara menurut istilah kafir dipahami dengan sebuah sikap dan tindakan menutup diri dari keimanan atau mengingkari keberadaan Allah swt dan rasul-Nya. Pada dasarnya kekafiran menjadikan seseorang buta dengan segala pemberian Sang Maha Kuasa. Sifat dan karakter orang-orang kafir sangat keras, mereka menolak kala diberi peringatan.

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ ۝ خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka tertutup. Dan mereka akan mendapat azab yang besar. (QS. Al-Baqarah: 6–7)

Ayat di atas menjadi acuan bahwa orang-orang kafir tidak akan menerima ajaran yang dibawa oleh baginda Rasulullah saw, hal itu karena mata dan hati mereka telah tertutup. Menurut Ibnu Abi Hâtim, penolakan atas peringatan-peringatan tersebut disebabkan kekafiran yang menutup mata dan telinga mereka. (Ibnu Abi Hâtim, Tafsîr Al-Qur’ân Al-Azhîm, 1/40).

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kekafiran menyebabkan hati, pendengaran dan penglihatan seseorang tertutup dari menerima kebenaran wahyu Allah Swt. Meskipun peringatan dan dakwah telah disampaikan dengan jelas oleh Rasulullah saw, mereka tetap menolak karena hati mereka telah dipenuhi kesombongan dan pengingkaran. Oleh sebab itu, Al-Qur’an menggambarkan orang-orang kafir sebagai golongan yang sulit menerima petunjuk, sebab kekafiran yang mereka pertahankan menjadi penghalang bagi masuknya cahaya iman ke dalam hati mereka.

3.    Munafik

Secara bahasa, munafik berasal dari kata Arab (an-nifâq) yang berarti menyembunyikan sesuatu atau menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada di dalam hati. Kata ini diambil dari istilah nāfiqā’, yaitu lubang persembunyian hewan yang memiliki dua pintu untuk keluar masuk secara diam-diam. Dari makna tersebut, munafik dipahami sebagai sikap berpura-pura dan tidak konsisten antara lahiriah dan batiniah.

Adapun secara istilah, munafik adalah sikap seseorang yang menampakkan keimanan dan keislaman secara lahiriah, tetapi di dalam hatinya menyimpan kekafiran, keraguan, atau kebencian terhadap ajaran Islam. Orang munafik biasanya menampilkan diri sebagai bagian dari kaum muslimin, namun perilaku dan keyakinannya bertentangan dengan apa yang diucapkannya.

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ

Dan di antara manusia ada yang berkata, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,’ padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah: 8).

Menurut Imam Abu Zahrah, setelah Allah swt menerangkan sifat dan karakter orang mumkin dan kafir, kemudian Allah swt menjelaskan karakter dan sifat antara keduanya, yaitu orang-orang munafik. Pada dasarnya orang munafik memiliki agama dan moral dan bahkan keadaan mereka lebih buruk, lebih banyak kerusakan yang ditimbulkan dan keras dari orang kafir itu sendiri. (Abu Zahrah, Zuhratuttafâsîr, 121).

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an membagi manusia ke dalam tiga kelompok utama, yaitu mukmin, kafir dan munafik. Mukmin adalah orang yang memiliki keimanan yang tulus, tunduk kepada Allah Subhanahu Waatala, serta membuktikan imannya melalui amal saleh seperti salat, tawakal dan berinfak. Sebaliknya, orang kafir adalah mereka yang menutup diri dari kebenaran sehingga hati dan pendengaran mereka tidak mampu menerima petunjuk Allah Subhanahu Waatala Adapun orang munafik merupakan golongan yang paling berbahaya, karena menampilkan keimanan secara lahiriah, tetapi menyimpan kekafiran dan kerusakan di dalam hati mereka.***
 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar